Rss

Kamis, 02 Mei 2013

KENAIKAN BBM : REKAYASA LINTAH DEMOKRASI DI NEGARA PECUNDANG!


Dalam pidatonya di hadapan para menteri, gubernur, wali kota dan bupati seluruh Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menegaskan rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. “Rencana tersebut bakal direalisasikan usai pembahasan rancangan anggaran pendapatan dan belanja perubahan (RAPBN-P) 2013.” jelas SBY saat membuka Musrenbangnas di Bidakara, Jakarta, Selasa (30/4). (Merdeka.com)
Inilah secuil berita yang kita dapatkan dari sekian banyak berita tentang kedahsyatan kenaikan BBM. Banyak sekali dongeng dan cerita dari negeri muslim yang terjajah ini, banyak sekali pula alasan yang terlontar dari gedung raksasa yang ditempati oleh petinggi-petinggi demokrasi. Kenaikan BBM akan dan sangat pasti terjadi, alasan yang sering mereka lontarkan adalah subsidi BBM mengakibatkan APBN sakit bahkan bisa dikatakan “sekarat”. Jikalau memang seperti itu alasannya, mengapa hanya subsidi BBM yang disudutkan? Mengapa anggaran untuk bayar bunga dan cicilan pokok utang yang totalnya sebesar 171,7 triliun tidak pernah dijadikan persoalan? Ada apa sebenarnya di balik subsidi BBM??
Fakta telah bercerita bahwa 84%  Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Indonesia telah dikuasai oleh individu, kelompok maupun swasta asing. Inilah fakta yang Indonesia beberkan kepada kita, tidakkah kalian mengerti apa makna semua itu? Dalil APBN “sekarat” sehingga BBM harus dinaikkan hanyalah sebatas kedok licik pemerintah untuk menutupi tujuan mereka sesungguhnya, yakni melayani kepentingan para kapitalis!
Kenaikan BBM ini sangat jelas akan menambah kesusahan bahkan menambah kemiskinan rakyat. Kenaikan BBM hanyalah menambah beban rakyat, rakyat yang miskin tambah miskin, bisa dibilang bahwa SBY mengeluarkan ultimatum “LANJUTKAN KEMISKINAN”. Dengan kenaikan BBM akan sangat pasti dan otomatis bahan-bahan pokok yang diperlukan rakyat akan mengalami kenaikan harga juga. Ini sangat jelas tidak berpihak sama rakyat, jikalau memang perlu menyebarkan angket setuju atau tidak akan kenaikan BBM sama rakyat, saya yakin pasti akan banyak yang menolak. Bagaimana tidak, hal yang mustahil mereka menyetujui keputusan yang bisa menambah kemiskinan mereka.
Rakyat harus waspada dengan kenaikan BBM ini, karena bisa tercium betapa busuknya rencana para petinggi-petinggi demokrasi akan kenaikan BBM ini. Petinggi-petinggi demokrasi adalah manusia-manusia yg licik, mereka bersembunyi di balik undang-undang. Pada faktanya kenaikan BBM adalah langkah untuk meliberalisasi migas di Indonesia di sektor hilir setelah sektor hulu diliberalisasi secara sempurna.
Pemerintah pada dasarnya sadar betul kenaikan BBM ini akan semakin menambah kesengsaraan rakyat. Itulah mereka segera meluncurkan kebijakan lain yaitu berupa BLT (Bantuan Langung Tunai), RasKin dlln. Tapi realitas berbicara bahwa kebijakan dalam bentuk bantuan itu hanyalah imajinasi sebatas harapan kosong belaka. BLT ataupun RasKin ini hanyalah kebijakan untuk sementara waktu, BLT hanya selama 3 bulan dan RasKin diperpanjang selama 1 tahun. Yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah nasib rakyat setelah 3 bulan atau setelah 1 tahun itu?
Yang menjadi fakta lain adalah BLT maupun RasKin itu tidak tepat pada sasaran, jika dianalisis Rakyat yang akan diberikan bantuan hanyalah mereka yang masuk dalam kategori garis kemiskinan yang dibuat oleh Bappenas. Sementara, banyak yang diambang batas yang tidak masuk dalam kategori dan sasaran penerimaan bantuan, baik bantuan pendidikan, BLT, dan lain sebagainya yang sangat menderita. Rakyat pada kondisinya kaya bukan, dianggap miskin tidak oleh pemerintah. Kalau kita percaya garis yang ditetapkan oleh world bank itu ada sekitar  109 juta, jika dikurangi 39 juta sekitar ada 70 juta yang tidak mendapat subsidi. Inilah bukti bahwa segala kebijakan yang ditetapkan oleh petinggi-petinggi demokrasu tidaklah berpihak pada rakyat.
Kenaikan BBM bisa dikategorikan sebagai kebijakan “paksaan” oleh ekonomi pasar internasional. Kenaikan BBM bukanlah lahir dari aspirasi rakyat, bagaimana mungkin rakyat ingin “mati konyol” dengan menahan “gondok kesusahan” kenaikan harga bahan-bahan pokok. Tanpa kenaikan BBM rakyat sudah menderita, mengapa harus ditambah lagi kerumitan hidup rakyat dengan kebijakan khianat ini? Dan bisa dianalisis kenaikan BBM ini berujung pada kepentingan asing, kebijakan ini adalah permainan monopoli ekonomi tingkat atas oleh para penguasa dan petinggi.
Pada dasarnya kenaikan BBM ini jika dianalisis akan berujung pada “KEHARAMAN”. Kita tinjau satu persatu :
1.      Kenaikan BBM lahir dari privatisasi & liberalisasi migas
Imam Abu Dawud menuturkan sebuah hadits dari Ibnu al-Mutawakkil bin ‘Abd al-Madaan, dari Abyad bin Hamal ra, bahwasanya ia berkata:
أَنَّهُ وَفَدَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَقْطَعَهُ الْمِلْحَ قَالَ ابْنُ الْمُتَوَكِّلِ الَّذِي بِمَأْرِبَ فَقَطَعَهُ لَهُ فَلَمَّا أَنْ وَلَّى قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمَجْلِسِ أَتَدْرِي مَا قَطَعْتَ لَهُ إِنَّمَا قَطَعْتَ لَهُ الْمَاءَ الْعِدَّ قَالَ فَانْتَزَعَ مِنْهُ
“Sesungguhnya, Abyad bin Hamal mendatangi Rasulullah saw, dan meminta beliau saw agar memberikan tambang garam kepadanya.  Ibnu al-Mutawakkil berkata,”Yakni tambang garam yang ada di daerah Ma’rib.”  Nabi saw pun memberikan tambang itu kepadanya.  Ketika, Abyad bin Hamal ra telah pergi, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukan Anda, apa yang telah Anda berikat kepadanya?Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir (al-maa’ al-‘idd)”. Ibnu al-Mutawakkil berkata, “Lalu Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya (Abyad bin Hamal)”.[HR. Imam Abu Dawud].
Beranjak dari hadits ini bisa kita analisis bahwa rasulullah menarik kembali tambang garam itu dari Abyad bin Hamal ra. Rasulullah menarik kembali karena tambang itu mengandung atau bisa dikatakan menghasilkan deposit melimpah yang dapat digunakan untuk kepentingan umat. Ini bukti yang jelas untuk memaparkan bahwa haram memberikan segala sesuatu yang menghasilkan deposit besar untuk umat kepada individu, kelompok apalagi negara lain.
      Ini juga bukan hanya berlaku untuk tambang garam saja, akan tetapi segala sesuatu yang tidak terbatas/sangat banyak jika ditinjau dari segi jumlahnya yang bisa dijadikan milik bersama. Migas termasuk, hutan termasuk, laut termasuk dan lain-lain yang memiliki jumlah sangat banyak. Dalam hadits tersebut bisa kita kaji mengenai hal ini, kalaupun hanya karena zat garamnya akan secara pasti Rasulullah akan menolak dari awal permintaan dari Abyad bin Hamal ra, akan tetapi dikarenakan zat itu ditinjau dari segi jumlahnya yang sangat banyak.
      Kita lihat dongeng yang diceritakan oleh fakta Indonesia, 84% Sumber Daya Alam diberikan kepada swasta asing untuk dikelola. Buka matamu kawan, hak-hak yang seharusnya milik kita sekarang dikuasai oleh asing! Dan itu dikarenakan penguasa kita yang senang hati memberikan secara percuma untuk itu!
      Privatisasi maupun liberalisasi migas “haram” hukumnya dalam islam, migas seharusnya dikelola oleh negara Indonesia sendiri dan bukan untuk dikelola oleh swasta asing. Inilah wajah buruk demokrasi, pembunuh tanpa wajah!
2.      Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud, Imam An Nasaaiy, dan lain-lain,  menuturkan sebuah hadits bahwasanya Rasulullah saw bersabda: 
Manusia itu berserikat (bersama-sama memiliki) dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api”. [HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasaaiy, dll). Dalam hadits yang diriwayatkan Ibn Majah dari Ibn Abbas ada tambahan,"Dan harganya haram" :
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal; air, padang rumput, dan api, dan harganya haram".[HR. Imam Ibnu Majah]
      Kaum muslim mempunyai hak dan andil untuk mengatur, menjaga dan mempergunakan segala sesuatu yg sangat banyak itu secara bersama-sama. Tidak ada yang diistimewakan, tidak ada pula yang dilebih-lebihkan. Fakta sekarang yang dibeberkan oleh demokrasi apa? Ketiga hal di atas sekarang tidak menjadi milik umat islam, tidak menjadi milik rakyat indonesia, akan tetapi menjadi milik orang lain, orang yang tinggal di Indonesia saja tidak sudi dan hanya mau mengeruk semua sendi-sendi kehidupan negeri kaya ini.
3.      Dari Iyas bin ‘Abd, bahwasanya ia berkata:
 “Sesungguhnya Nabi saw melarang menjual kelebihan air.” [HR Lima kecuali Ibn Majah dan disahihkan al-Tirmidziy].  Di dalam riwayat lain, dituturkan dari Jabir ra, bahwasanya ia berkata:
 “Rasulullah saw melarang menjual kelebihan air”.[HR. Imam Muslim dan lain-lain]
Imam al-Qusyairiy menyatakan bahwa hadits riwayat dari Iyas bin ‘Abd adalah hadits yang memenuhi syarat Imam Bukhari dan Muslim.  Sedangkan hadits Jabir ra juga dituturkan dalam Shahih Muslim, yang lafadznya sama dengan hadits riwayat Iyas bin ‘Abd ra.
Menurut Imam Asy Syaukaniy, hadits ini menunjukkan haramnya menjual kelebihan air, yakni kelebihan dari kecukupan (kebutuhan) orang  yang memiliki. Tidak ada perbedaan apakah air itu berada di tanah mubah atau tanah yang sudah dimiliki (secara individu), untuk diminum atau lainnya, untuk keperluan ternak atau menyirami kebun, dalam bepergian atau tidak. 
 Di dalam Kitab Nail al-Authar, Imam Asy Syaukaniy menyatakan:
“Dua hadits di atas menunjukkan haramnya menjual kelebihan air.  Yakni, kelebihan air dari kecukupan pemiliknya.  Dzahir hadits tersebut menunjukkan tidak ada perbedaan antara air yang terdapat di tanah yang mubah, atau tanah yang telah dimiliki; dan sama saja apakah air itu untuk minum, atau untuk yang lainnya, dan sama saja apakah air itu untuk (memenuhi) kebutuhan hewan gembalaan atau untuk pertanian, dan sama saja apakah ada di dataran, atau tempat lain”. [Imam Asy Syaukani, Nail al-Authar, juz 8/183].
Imam An Nawawiy dalam Kitab Syarah Shahih Muslim menyatakan:
“Adapun perkataannya (nahaa Rasulullah saw ‘an bai’ fadll al-maa`/Rasulullah saw melarang menjual kelebihan air) dan dalam riwayat lain (‘an bai` dliraab al-jamal, wa ‘an bai` al-ardl lituhrats/Rasul saw melarang mengambil upah dari penaburan benih (sperma ) onta, dan Rasul menyewakan tanah untuk pertanian), dan dalam riwayat lain disebutkan (laa yumnaa` fadlu al-maa` liyumna` bihi al-kalaa`/janganlah ditahan kelebihan air hingga padang rumput tercegah (untuk mendapatkan) kelebihan air tersebut), dan dalam riwayat lain (laa tubaa` fadll al-maa` liyubaa` bihi al-kalaa`/janganlah dijual kelebihan air untuk pengairan padang rumput).  Adapun larangan menjual kelebihan air sehingga padang rumput tercegah untuk mendapatkan kelebihan air tersebut, maknanya adalah ada seseorang memiliki sumur yang dimilikinya di sebuah dataran. Di dalam sumur itu ada air berlebih dari (kadar) kebutuhannya, dan di dekatnya ada padang rumput yang tidak ada air (untuk mengairinya) kecuali air tersebut; sehingga pemilik ternak tidak mungkin mengembalakan ternaknya kecuali ada bagi mereka pengairan dari sumur tersebut.  Pemilik sumur itu dilarang menahan kelebihan air untuk hewan ternak.Kelebihan air itu wajib disedekahkan untuk ternak tanpa kompensasi.  Sebab, jika ia melarang mendermakan kelebihan air miliknya, maka orang-orang akan tercegah untuk mengembalakan ternak mereka di padang rumput tersebut, karena takut ternak-ternak mereka akan kehausan.  Atas dasar itu, pencegahan dirinya untuk mendermakan kelebihan air itu, akan mencegah gembalaan di padang rumput.  Adapun riwayat pertama (nahaa ‘an bai` fadll al-maa`) bisa dibawa kepada dua pengertian, yakni karena alasan menahan kelebihan air itu untuk mengairi padang rumput, dan bisa juga dibawa kea rah pengertian pada selain padang rumput.   Dan larang tersebut menjadi nahyu tanziih.  
Para ulama madzhab berpendapat: wajib mendermakan kelebihan air yang ada di dataran dengan syarat, sebagaimana kami telah sebutkan, (pertama): tidak ada sumber air lain yang bisa mencukupi; (kedua): (kewajiban mendermakan kelebihan air itu) untuk kebutuhan binatang ternak, bukan untuk mengairi pertanian.; (ketiga), pemilik sumur itu tidak membutuhkan kelebihan air tersebut. [Imam An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz 5/414].
Adapun qarinah yang menunjukkan bahwa larangan menjual kelebihan air adalah larangan yang bersifat pasti (jaazim), sehingga berimplikasi pada hukum haram, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya, dari Nabi saw, bahwasanya beliau saw bersabda:
 “Barang siapa menghalangi (orang lain untuk mengambil atau memanfaatkan) kelebihan air atau kelebihan padang rumputnya, maka Allah Azza wa Jalla akan menghalangi keutamaanNya kepada dia pada hari kiamat“.[HR. Imam Ahmad].
Hadits-hadits yang menuturkan tentang larangan menjual kelebihan air, menunjukkan bahwa seorang Muslim dilarang mencegah orang lain untuk mengakses barang-barang yang sudah menjadi hajat hidup orang banyak, yang mana pencegahan itu bisa menimbulkan madlarrah bagi kehidupan masyarakat.  Dari sinilah dapat dipahami bahwa mengalihkan harta kepemilikan umum kepada individu atau perusahaan swasta yang menyebabkan masyarakat tidak mampu mengakses harta kepemilikan tersebut adalah tindakan haram.
      Realitas sekarang berbanding terbalik, BBM tidak dimiliki oleh umat, tidak dimiliki oleh negara tetapi dimiliki oleh orang lain, dan yang lebih parahnya lagi orang tersebut adalah musuh utama kita! Kebijakan setan yang pemerintah utarakan sama saja membangun jalan tol untuk orang-orang kafir menguasai kaum muslim, semakin dikuasainya BBM atau tambang-tambang minyak dan gas di negeri ini akan semakin menguatkan cengkraman kuku kematian mereka(orang-orang kafir) untuk mengoyak tubuh negeri kaya raya ini.
Hal inipun sangat dilarang dalam Islam, mari kita simak Firman Allah :
“dan sekali-kali Allah tidak akan pernah menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin”.[TQS An Nisaa` (4):141]. Ini telah menjadi bukti bahwa umat islam “haram” hukumnya berada dalam kendali orang-orang kafir. Tapi apa yang pemerintah lakukan terhadap kita? Mereka dengan seenaknya mengeluarkan kebijakan khianat atas landasan kenaikan BBM yang sejatinya mengantarkan umat ke jurang kematian!
4.      Kebijakan setan : Diskriminatif & Pendzaliman massal kepada rakyat
Sejatinya kenaikan BBM menambah beban yang ada di pundak rakyat. Fakta berbicara bahwa tanpa kenaikan BBM rakyat sudah menderita. Mari kita tinjau hadits berikut :
“Barangsiapa menyempitkan (urusan orang lain), niscaya Allah akan menyempitkan urusannya kelak di hari kiamat“.[HR. Imam Bukhari]
Kenaikan BBM sudah sangat pasti menyempitkan urusan rakyat. Pemerintah dengan seenaknya memainkan skenario penghalalan kebijakan ini atas nama Undang-Undang. Tidak sadarkah bahwa perbuatan kalian itu akan dibalas oleh Allah kelak, wahai tikus berdasi???
Dituturkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah berdoa:
 “Yaa Allah, barangsiapa memiliki hak mengatur suatu urusan umatku, lalu ia menyempitkan mereka, maka sempitkanlah dirinya; dan barangsiapa memiliki hak untuk mengatur suatu urusan umatku, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik, maka perlakukanlah dirinya dengan baik“.[HR. Imam Ahmad dan Imam Muslim]
Wahai para tikus berdasi yang menjadi petinggi demokrasi, Rasulullah telah menitipkan doa untukmu!
Kenaikan BBM dikatakan diskriminatif karena mengakibatkan kaum muslim tidak bisa mengecap hak mereka dengan adil. Pada dasarnya BBM adalah milik bersama, bukan milik negara! Negara hanya ditugaskan untuk mengelola, bukan untuk menggunakan apalagi menjual kepada orang lain tanpa persetujuan sang pemilik (rakyat).
Sangatlah konyol rakyat sebagai pemilik semua itu harus membeli kepada orang yang ditugaskan oleh rakyat untuk mengelola. Bagaimana bisa sang majikan menjadi pembeli di toko sang majikan itu sendiri yg di atur oleh pembantu yg ditugaskan oleh sang majikan! Wahai para tikus berdasi yang ada di parlemen, tahu diri, tahu malu dan tahu dosa! Kalian seenaknya saja menaikkan BBM hanya dengan landasan UU APBN 2012 pasal 7 ayat 6a. UU yang kalian jadikan cap stempel keabsahan untuk menjual dan menaikkan harga BBM akan sangat pasti telah menjadi cap stempel pula di neraka kelak!
Ini semua tidak akan pernah lepas dari “Demokrasi”. Semboyan demokrasi yang berbunyi : ‘Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” hanyal sebatas tulisan indah yang terpampang di gedung-gedung petinggi demokrasi! Demokrasi itu omong kosong, demokrasi adalah tempat tinggalnya para cecunguk-cecunguk berdasi yang memainkan peran dengan bermadzhabkan kapitalis!
Solusi dari semua ini adalah satu :
“GANTI REZIM, GANTI SISTEM!!”
Untuk menghentikan dan menggantikannya, saatnya kita lipat gandakan perjuangan dan pengorbanan untuk menerapkan syariah secara utuh dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah sebagai bentuk pemenuhan kita terhadap seruan Allah dan RasulNya.
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu". (QS al-Anfal [8]: 24)
Wallâh a’lam bi ash-shawâb
SALAM PEMBEBASAN!!                                                                                      
Najmah Al Faruq




ORASI : ORMAS (BUKTI KEPENGECUTAN PEMERINTAH)


Saudaraku, lagi-lagi pemerintah akan menerapkan kebijakan setan, kebijakan yang membuat rakyat menderita dan sengsara, yakni tanggal 9 april nanti pemerintah akan melegalisasikan atau mensahkan RUU ORMAS .  Alasannya karena ingin mengatur masyarakat agar menggunakan asas tunggal yaitu asas pancasila.

Ini adalah alasan konyol saudaraku!!
Dari sabang sampai merauke, sangat banyak ormas-ormas baik itu ormas islam ataupun non islam!! Semua dunia sudah tahu sangat banyak ormas-ormas yang mempunyai asas masing-masing. Tapi kenapa ormas-ormas sekarang di paksa untuk sujud di kaki pancasila??

RUU ORMAS yang di rancang oleh para cecunguk-cecunguk berdasi di parlemen bisa kita nilai sebagai salah satu bentuk penghianatan para penguasa terhadap rakyatnya.
Pengkhianatan kepada rakyat secara umum dan pengkhianatan kepada Islam secara khusus ! Hal yang sangat konyol jikalau ormas islam dipaksakan bertekuk lutut pada pancasila!!

Omong kosong negara ini negara demokratis!!! Faktanya penolakan terjadi dimana-mana dan banyak masyarakat  yg tidak setuju dengan  kebijakan setan ini. Tapi apa yg dilakukan oleh para penguasa diatas sana , mereka tutup mata dan tutup telinga saudaraku, pura-pura  tidak melihat dan mendengar segala penderitaan rakyatnya.

Sebenarnya saudaraku, kebijakan seperti ini kebijakan yang sangat-sangat jauh dari kerasionalan. Bagaimana mau rasional, kita sebagai umat islam hanya mempunyai 1 asas, yaitu islam dan itu sudah HARGA MATI!! Tapi kenapa kita di desak bahkan di paksa untuk menyembah pancasila?

Saudaraku, saat ini kita dipimpin oleh para penguasa yang pengecutnyamencapai level tingkat tinggi, bisa kita rasakan bahwa RUU ORMAS ini adalah suatu skenario yang dibuat untuk membungkam aspirasi-aspirasi masyarakat, membungkam mulut rakyat untuk beramar ma’ruf nahi mungkar!

 Ini sangat jelas saudaraku! Ini merupakan suatu respon ketakutan dan kepengecutan para tikus-tikus berdasi yang ada di parlemen sana. Dan ironisnya ini hanya berlaku pada ormas, tidak pada partai politik!! Kebijakan setan ini merupakan skenario pemerintah yang pincang!!

Kenapa hanya ormas yang di paksa?? Kenapa partai politik tidak di seret??? Jikalau di fikir saudaraku, Ormas hanyalah sebuah wadah yang tidak berikatan dengan “hitam di atas putih” negara ini,, sebaliknya partai politiklah yang sangat berikatan bahkan lahir dari rahim “hitam di atas putih” negara ini!!

Sesungguhnya RUU ORMAS ini merupakan “Kunci” untuk membukan PINTU KEMBALINYA REZIM REPRESIF ALA ORBA! Rezim yang membungkam aspirasi rakyat, menghalang-halangi orang-orang yang mau beramar ma’ruf nahi mungkar. Sekali lagi saudaraku, ini suatu bentuk kepengecutan dan pengkhianatan pemerintah kepada kita!

Mana “kebebasan” yang sering di gembar-gemborkan oleh negara  jawara demokrasi ini?? Dimana “kebebasan” itu??? Sungguh ironis, ternyata kebijakan itu hanya berpihak pada “orang-orang” tertentu!! Sama sekali tidak berpihak pada rakyat, terutama pada umat muslim!!! RUU ORMAS ini sangat jelas mengerucut pada Ormas-ormas islam yang berjuang menegakkan syariat Allah.

Saudaraku, segala kerusakan yang terjadi saat ini disebabkan karena diterapkannya sistem rusak dan sistem kufur.

Sistem apa??? 
Ya!!!
Kapitalismelah yang menyengsarakan kita, kapitalismelah yg merenggut hak-hak kita, merusak kehormatan kita dan merusak generasi kaum muslimin.

Oleh karena itu saudaraku, sudah saatnya sistem ini kita buang dan kita hancurkan !!! Diganti dengan sistem yang berasal dari wahyu dan bukan berasal dari pemikiran manusia!! Sistem yang tidak terdapat kecacatan sama sekali didalamnya, Yakni sistem ISLAM!!

Dengan diterapkannya  syariat dan tegaknya  Khilafah, maka Allah akan menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan bagi kita semua.

Maka dari itu, kami Hizbut Tahrir Indonesia DPD 1 Gorontalo menyeru kepada anda semua, baik itu bapak aparat polisi, militer, pengguna jalan dan pedagang kaki lima, Untuk menjadi garda terdepan dalam perjuangan ini.

Wahai para penguasa!! Kami ingatkan kepada kalian yang duduk santai dan berfoya-foya disana, hendaklah segera memperbaiki diri, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengancam dalam Firman-Nya
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab JAHANNAM dan bagi mereka azab (neraka) yg membakar” (TQS Al-Buruj : 10)

Wahai para penguasa!!!! Kami ingatkan kepada Anda, demi dzat dan jiwa kami yang ada didalam genggamanNya.
Kami tidak akan pernah lelah dan menyerah sampai syariat ini diterapkan, sampai khilafah ini ditegakkan atau kita mati karenanya!!
Allahu Akbar,,,
Allahu Akbar,,,
Allahu Akbar,,,
SALAM PEMBEBASAN!!!
                                                                       
                                                                                                            NAJMAH AL FARUQ

PEMENUHAN KEBUTUHAN POKOK MASYARAKAT OLEH NEGARA


Dalam pandangan Islam, yang termasuk kebutuhan pokok meliputi kebutuhan terhadap barang-barang tertentu (sandang, pangan, dan papan) dan kebutuhan terhadap jasa-jasa tertentu (meliputi pendidikan, kesehatan, dan keamanan). Ini adalah kebutuhan pokok. Dikatakan sebagai kebutuhan pokok, sebab berbagai hal tersebut adalah kebutuhan mendasar seorang manusia dengan segala potensinya, baik itu kebutuhan fisik/biologis maupun kebutuhan pemenuhan naluri. Dalam pandangan Islam, negara wajib memenuhinya.


Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan pokok ini harus menggunakan politik ekonomi yang benar. Politik ekonomi yang benar, tidak lain adalah politik ekonomi Islam. Secara garis besar, strategi pemenuhan kebutuhan pokok dibedakan antara pemenuhan kebutuhan pokok yang berupa barang dengan pemenuhan kebutuhan pokok yang berupa jasa. Mengapa harus dibedakan? Sebab, terdapat perbedaan antara pelaksanaan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok; antara kebutuhan yang berbentuk barang dengan yang berbentuk jasa. 



Untuk pemenuhan kebutuhan pokok yang berupa barang, negara memberikan jaminan dengan mekanisme tidak langsung, yaitu dengan jalan menciptakan kondisi dan sarana yang dapat menjamin terpenuhi kebutuhan tersebut. Sedangkan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pokok yang berupa jasa dipenuhi dengan mekanisme langsung, yaitu negara secara langsung memenuhi kebutuhan jasa pokok tersebut. Artinya, negara memberikan fasilitas pendidikan dan kesehatan secara cuma-cuma atau semurah mungkin, serta menciptakan stabilitas dalam negeri demi terciptanya rasa aman warga negara.



1. PEMENUHAN KEBUTUHAN POKOK BERUPA BARANG (PANGAN, SANDANG DAN PAPAN)



Strategi untuk pemenuhan ini dilakukan secara bertahap. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh negara.



Langkah pertama:
Memerintahkan Kepada Setiap Kepala Keluarga untuk Bekerja



Barang-barang kebutuhan pokok tidak mungkin diperoleh, kecuali apabila manusia berusaha mencarinya. Islam mendorong manusia agar bekerja, mencari rezeki dan berusaha. Bahkan Islam telah menjadikan hukum mencari rezeki tersebut adalah fardhu/wajib. Allah SWT berfirman:



“Dialah (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, serta makanlah sebagian rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk : 15)



Firman-Nya juga:
“…Maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah :10)



Firman-Nya yang lain:
“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan izin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS. Al-Jatsiyah :12)



Nash-nash di atas memberikan penjelasan kepada kita, bahwa pada mulanya, pemenuhan kebutuhan pokok dan upaya meningkatkan kesejahteraan hidup manusia adalah tugas individu itu sendiri, yakni dengan “bekerja”. 



Langkah kedua:
Negara Menyediakan Berbagai Fasilitas Lapangan Kerja agar Setiap Orang yang Mampu Bekerja dapat Memperoleh Pekerjaan



Jika orang-orang yang wajib bekerja telah berupaya mencari pekerjaan, namun ia tidak memperoleh pekerjaan, sementara ia mampu bekerja dan telah berusaha mencari pekerjaan tersebut, maka negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan atau memberikan berbagai fasilitas agar orang yang bersangkutan dapat bekerja untuk mencari nafkah penghidupan. Sebab, hal tersebut memang menjadi tanggung jawab negara. Rasullah saw bersabda :



“Seorang Imam/pemimpin adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw pernah memberikan dua dirham kepada seseorang, kemudian Beliau saw. berkata kepadanya: 



“Makanlah dengan satu dirham, dan sisanya belikanlah kapak, lalu gunakanlah ia untuk bekerja.” 



Syaikh Abdul Aziz Al Badri rahimahullah menceritakan suatu ketika Amirul Mukminin, Umar bin Khathab ra. memasuki sebuah masjid di luar waktu salat lima waktu. Didapatinya ada dua orang yang sedang berdoa kepada Allah SWT. Umar ra. lalu bertanya :“Apa yang sedang kalian kerjakan, sedangkan orang-orang di sana kini sedang sibuk bekerja?, Mereka menjawab :“Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah SWT.” Mendengar jawaban tersebut, maka marahlah Umar ra., seraya berkata :“Kalian adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal kalian tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.” Kemudian Umar ra. mengusir mereka dari masjid namun memberi mereka setakar biji-bijian. Beliau katakan kepada mereka: “Tanamlah dan bertawakallah kepada Allah.”



Langkah ketiga:
Memerintahkan Kepada Setiap Ahli Waris atau Kerabat Terdekat untuk Bertanggung Jawab Memenuhi Kebutuhan Pokok Orang-orang Tertentu, Jika Ternyata Kepala Keluarganya Sendiri tidak Mampu Memenuhi Kebutuhan Orang-orang yang Menjadi Tanggungannya



Jika negara telah menyediakan lapangan pekerjaan dan berbagai fasilitas pekerjaan, namun seorang individu tetap tidak mampu bekerja sehingga tidak mampu mencukupi nafkah anggota keluarga yang menjadi tanggung jawabnya, maka kewajiban nafkah itu dibebankan kepada para kerabat dan ahli warisnya, sebagaimana firman Allah SWT :



“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian…”(QS. Al-Baqarah :233)



Ayat Al-Qur’an di atas menjelaskan bahwa adanya kewajiban atas ahli waris. Seorang anak wajib memberikan nafkah kepada orang tuanya (yang tidak mampu) untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Rasulullah saw telah bersabda :



“Kamu dan hartamu adalah untuk (keluarga dan) bapakmu.” (HR. Ibnu Majah)



Jika ada yang mengabaikan kewajiban nafkah kepada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, sedangkan ia berkemampuan untuk itu, maka negara berhak memaksanya untuk memberikan nafkah yang menjadi kewajibannya. 



Langkah keempat:
Mewajibkan Kepada Tetangga Terdekat yang Mampu untuk Memenuhi Sementara Kebutuhan Pokok (Pangan) Tetangganya yang Kelaparan



Jika seseorang tidak mampu memberi nafkah terhadap orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, baik terhadap sanak keluarganya atau mahramnya, dan ia pun tidak memiliki sanak kerabat atau mahram yang dapat menanggung kebutuhannya, maka kewajiban pemberian nafkah itu beralih kepada Baitul Mal (perbendaharaan negara). Namun sebelum kewajiban tersebut beralih kepada negara, dalam rangka menjamin hak hidup orang-orang yang tidak mampu tersebut, maka Islam juga telah mewajibkan kepada tetangga dekatnya yang muslim untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pokok orang-orang tersebut, khususnya berkaitan dengan kebutuhan pangan untuk menyambung hidup. Dalam hal ini Rasulullah saw. pernah bersabda:



“Tidak beriman kepadaku, tidak beriman kepadaku, tidak beriman kepadaku, orang yang pada malam hari tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan dan dia mengetahui hal tersebut.” (HR. Al-Bazzar)



Bantuan tetangga itu tentunya hanya bersifat sementara, sehingga tetangganya tidak meninggal karena kelaparan. Untuk jangka panjang, maka negara yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sebab, Baitul Mal (perbendaharaan negara) memang berfungsi menjadi penyantun bagi orang-orang yang lemah dan membutuhkan, sedangkan pemerintah adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya. 



Langkah kelima:
Negara secara Langsung Memenuhi Kebutuhan Pangan, Sandang dan Papan Seluruh Warga Negara yang Tidak Mampu dan Membutuhkan.



Menurut Islam, negara Bbaitul Mal) berfungsi menjadi penyantun orang-orang lemah dan membutuhkan, sedangkan pemerintah adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya. Dalam hal ini negara akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang menjadi tanggungannya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok individu masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya secara sempurna –baik karena mereka telah berusaha namun tidak cukup (fakir dan miskin) atau pun terhadap orang-orang yang lemah dan cacat yang tidak mampu untuk bekerja– maka negara harus menempuh berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.



Negara bisa saja memberikan nafkah dari Baitul Mal tersebut berasal dari harta zakat yang merupakan kewajiban Syar’i, dan diambil oleh negara dari orang-orang kaya, sebagaimana firman Allah SWT :



“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (QS. At-Taubah :103)



Dalam hal ini negara berkewajiban menutupi kekurangan itu dari harta benda Baitul Mal (di luar harta zakat) jika harta benda dari zakat tidak mencukupi.



Pangan dan sandang adalah kebutuhan pokok manusia yang harus terpenuhi. Tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari dua kebutuhan itu. Oleh karena itu, Islam menjadikan dua hal itu sebagai nafkah pokok yang harus diberikan kepada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Demikianlah, negara harus berbuat sekuat tenaga dengan kemampuannya, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Islam, yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dan memungkinkan dinikmati oleh setiap individu yang tidak mampu meraih kemaslahatan itu. 



Sebagai jaminan akan adanya peraturan pemenuhan urusan pemenuhan kebutuhan tersebut, dan merupakan realisasi tuntutan Syari’at Islam, Umar bin Khathab telah membangun suatu rumah yang diberi nama “darul daqiiq” (rumah tepung). Di sana tersedia berbagai jenis tepung, korma dan barang-barang kebutuhan lainnya, yang tujuannya untuk menolong orang-orang yang singgah dalam perjalanan dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan, sampai ia terlepas dari kebutuhan itu. Rumah itu dibangun di jalan antara Makkah dan Syam, di tempat yang strategis dan mudah dicari (dicapai) oleh para musafir. Rumah yang sama, juga dibangun di jalan di antara Syam dan Hijaz.



Itulah hukum-hukum syari’at Islam, yang memberikan alternatif cara pemenuhan kebutuhan hidup dan mewujudkan kesejahteraan bagi tiap individu masyarakat, dengan cara yang agung dan mulia. Hal itu akan mencegah individu-individu masyarakat yang sedang dililit kebutuhan untuk berusaha memenuhi kebutuhan mereka dengan menghinakan diri (meminta-minta). 



2. PEMENUHAN KEBUTUHAN POKOK BERUPA JASA (PENDIDIKAN, KESEHATAN DAN KEAMANAN)



Pendidikan, kesehatan dan keamanan, adalah kebutuhan asasi dan harus dikecap oleh manusia dalam hidupnya. Berbeda dengan kebutuhan pokok berupa barang (pangan, sandang dan papan), di mana Islam melalui negara menjamin pemenuhannya melalui mekanisme yang bertahap. Maka terhadap pemenuhan kebutuhan jasa pendidikan, kesehatan dan keamanan dipenuhi negara secara langsung kepada setiap individu rakyat. Hal ini karena pemenuhan terhadap ketiganya termasuk masalah “pelayanan umum” (ri’ayatusy syu-uun) dan kemaslahatan hidup terpenting. Islam telah menentukan bahwa yang bertanggung jawab menjamin tiga jenis kebutuhan dasar tersebut adalah negara. Negaralah yang harus mewujudkannya, agar dapat dinikmati seluruh rakyat, baik muslim maupun non-muslim, miskin atau kaya. Sedangkan seluruh biaya yang diperlukan, ditanggung oleh Baitul Maal.



Dalam masalah pendidikan, menjadi tanggung jawab negara untuk menanganinya, dan termasuk kategori kemaslahatan umum yang harus diwujudkan oleh negara agar dapat dinikmati seluruh rakyat. Gaji guru, misalnya, adalah beban yang harus dipikul negara dan pemerintah dan diambil dari kas Baitul Mal. Rasulullah SAW telah menetapkan kebijaksanaan terhadap para tawanan perang Badar. Beliau katakan bahwa para tawanan itu bisa bebas sebagai status tawanan, apabila seorang tawanan telah mengajarkan 10 orang penduduk Madinah dalam baca-tulis. Tugas itu menjadi tebusan untuk kebebasan dirinya.



Kita mengetahui bahwa barang tebusan itu tidak lain adalah hak milik Baitul Mal. Tebusan itu nilainya sama dengan harta pembebasan dari tawanan lain dalam perang Badar itu. Dengan tindakan tersebut (yakni membebankan pembebasan tawanan itu ke Baitul Mal dengan cara menyuruh para tawanan tersebut mengajarkan kepandaian baca-tulis), berarti Rasulullah SAW telah menjadikan biaya pendidikan itu setara dengan barang tebusan. Artinya, beliau SAW, memberi upah kepada para pengajar itu dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik Baitul Mal.



Menurut Syaikh Abdul Aziz Al-Badri, Ad Damsyiqy menceritakan suatu peristiwa dari Al Wadliyah bin Atha’, yang mengatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Oleh Khalifah Umar Ibnu Al Khathab, atas jerih-payah itu beliau memberikan gaji kepada mereka sebesar 15 dinar setiap bulan (satu dinar = 4,25 gram emas). Totalnya 63,75 gram emas. Jadi kalaulah dianggap satu gram emas harganya sekitar Rp 70.000, berarti gaji guru, pengajar anak-anak, lebih kurang Rp. 4.462.5000. (Bandingkan dengan gaji guru sekarang)



Pendidikan adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh manusia. Sementara negara berkewajiban menjadikan saran-sarana dan tempat-tempat pendidikan. Rasulullah SAW bersabda:



“Mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim dan muslimah” (HR Thabrani)



Mencari ilmu adalah kewajiban yang harus dipikul oleh setiap individu (fardlu ‘ain). Ilmu-ilmu lain yang bersifat fardlu kifayah (fardlu atas sebagian kaum muslimin) tidak akan gugur kewajiban mencarinya sebelum sebagian kaum muslimin berhasil melaksanakannya dalam batas yang mencukupi. Misalnya ilmu ekonomi, kedokteran, industri, elektronika, mekanika dan ilmu-ilmu lain yang sangat bermanfaat dan dibutuhkan dalam kehidupan kaum muslimin.



Adapun yang berhubungan dengan jaminan kesehatan, diriwayatkan bahwa Mauquqis, Raja Mesir, pernah menugaskan (menghadiahkan) seorang dokter (ahli pengobatan)nya untuk Rasulullah SAW. Oleh Rasulullah SAW, dokter tersebut dijadikan sebagai dokter kaum muslimin dan untuk seluruh rakyat, dengan tugas mengobati setiap anggota masyarakat yang sakit. Tindakan Rasulullah SAW itu, dengan menjadikan dokter tersebut sebagai dokter kaum muslimin, menunjukkan bahwa hadiah tersebut bukanlah untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, hadiah semacam itu bukanlah khusus diperuntukkan bagi Beliau, tetapi untuk kaum muslimin, atau untuk negara. Lain halnya apabila hadiah tersebut dipakai oleh beliau pribadi, seperti selimut bulu dan keledai hadiah dari Raja Aikah, misalnya, maka hadiah seperti itu memang khusus untuk pribadi, bukan untuk seluruh kaum muslimin.



Demikianlah, pemanfaatan dan penentuan Rasulullah SAW terhadap suatu hadiah yang diterimanya, telah menjelaskan kepada kita bagaimana bentuk hadiah yang bernilai khusus pribadi dan untuk kemaslahatan umum. Juga bagaimana bentuk suatu hadiah yang diberikan kepada kepala negara, wakil atau penggantinya yang hadiah itu masuk ke dalam kekayaan Baitul Maal dan untuk seluruh kaum muslimin.



Pada masa lalu, Daulah Islamiyah telah menjalankan fungsi ini dengan sebaik-baiknya. Negara menjamin kesehatan masyarakat, mengatasi dan mengobati orang-orang sakit, serta mendirikan tempat-tempat pengobatan. Rasulullah SAW pernah membangun suatu tempat pengobatan untuk orang-orang sakit dan membiayainya dengan harta benda Baitul Maal.



Diceritakan bahwa Sayyidina Umar ra telah memberikan sesuatu dari Baitul Maal untuk membantu suatu kaum yang terserang penyakit lepra di jalan menuju Syam, ketika melewati daerah tersebut. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh para Khalifah dan wali-wali (para pemimpin wilayah). Bahkan, Khalifah Walid bin Abdul Malik telah khusus memberikan bantuan kepada orang-orang yang terserang penyakit lepra. Dalam bidang pelayanan kesehatan ini, Bani Ibnu Thulun di Mesir, memiliki masjid yang dilengkapi dengan tempat-tempat untuk mencuci tangan, lemari tempat menyimpan minuman-minuman dan obat-obatan serta, dilengkapi dengan ahli pengobatan (dokter) untuk memberikan pengobatan gratis kepada orang-orang sakit. Jadi, keberadaan dokter di tengah masyarakat, terpecahnya problema kesehatan masyarakat, dan pembangunan sarana atau balai-balai kesehatan, adalah tugas-tugas yang dibebankan Islam terhadap negara. Negaralah yang bertanggung jawab terhadap perwujudan semua itu.



Dijadikannya keamanan sebagai salah satu kebutuhan (jasa) yang pokok mudah dipahami, sebab tidak mungkin setiap orang dapat menjalankan seluruh aktivitasnya terutama aktivitas yang wajib seperti kewajiban ibadah, kewajiban bekerja, kewajiban bermuamalat secara Islami termasuk menjalankan aktivitas pemerintahan sesuai dengan ketentuan Islam tanpa adanya keamananan yang menjamin pelaksanaannya. Untuk melaksanakan ini semua maka negara haruslah memberikan jaminan keamanan bagi setiap warga negara.



Adapun dalil yang menunjukkan bahwa keamanan adalah salah satu kebutuhan jasa pokok adalah sabda Rasulullah saw :



“Barangsiapa yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (Al-Hadits)



Adapun dalil bahwa yang menjamin terpenuhinya adanya keamanan tersebut adalah tindakan Rasulullah saw yang bertindak sebagai kepala negara yang memberikan keamanan kepada setiap warga negara (muslim dan kafir dzimmi) sebagaimana sabdanya:



“Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaha illallahu Muhammadur Rasulullah. Apabila mereka telah melakukanya (masuk Islam atau tunduk kepada aturan Islam) maka terpelihara oleh-Ku darah-darah mereka, harta-harta mereka kecuali dengan jalan yang hak. Dan hisabnya terserah kepada Allah. (HR. Bukhari, Muslim dan pemilik sunan yang empat)



Mekanisme untuk menjamin keamanan setiap anggota masyarakat, adalah dengan jalan menerapkan aturan yang tegas kepada siapa saja yang akan dan mengganggu keamanan jiwa, darah dan harta orang lain. Sebagai gambaran kepada siapa saja yang mengganggu keamanan jiwa orang lain, yakni dengan jalan membunuh orang lain, maka orang tersebut menurut hukum Islam harus dikenakan sanksi berupa qishash, yakni hukum balasan yang setimpal kepada orang yang melakukan kejahatan tersebut. Termasuk di dalamnya keamanan harta milik pekerja dari upah yang seharusnya mereka miliki. Serta keamanan harta milik pengusaha dari perusahaan dan aset yang mereka miliki.



Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam memberikan jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan pokok setiap warga masyarakat, berupa pangan, sandang, papan. Demikian juga Islam telah menjamin terselenggaranya penanganan masalah pendidikan, kesehatan dan keamanan. Dijadikannya semua itu sebagai kewajiban negara dan bagian dari tugasnya sebagai pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Negaralah yang melaksanakan dan menerapkannya berdasarkan syari’at Islam. 



Dengan dilaksanakan politik ekonomi Islam tersebut, beberapa permasalahan pokok ketenagakerjaan yang berkaitan dengan masalah pemenuhan kebutuhan pokok dapat diatasi. Pengangguran diharapkan akan berkurang karena ketersedian lapangan kerja dapat di atasi; masalah buruh wanita dan pekerja di bawah umur tidak akan muncul karena mereka tidak perlu harus terjun ke pasar tenaga kerja untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian permasalahan tunjangan sosial berupa pendidikan dan kesehatan bukanlah masalah yang harus dikhawatirkan pekerja. Termasuk jaminan untuk memperoleh upah yang menjadi hak pekerja dapat diberikan.



Wallahu a’lam.
SALAM PEMBEBASAN!


                                                                                               
                                                                                                NAJMAH AL FARUQ


Rujukan:
1) Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam – Syaikh Abdul Aziz Al Badri
2) Solusi Islam atas Masalah Ketenagakerjaan – Muhammad Reza Rosadi
3) Sistem Ekonomi dalam Islam – Syaikh Taqiyuddin An Nabhani
4) Studi Pemikiran Islam – Muhammad Husain Abdullah



Catatan Kecil Seorang Syabah


Waktunya Pulang Sayang
“Papa,, aku rindu” lirihku
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. 18 tahun berlalu aku lalui tanpa kasih sayang seorang ayah. Airmata yang menggantung di kelopak mata tidak sabar untuk segera membanjiri pipi. Alangkah rindu ini menyesakkan dada. Hanyalah sebuah foto lusuh yang aku punya. Hanya foto itu yang bisa ku peluk ketika rindu. Hanya foto itu yang bisa aku cium dengan airmata. Yang aku tahu hanyalah “Allah lebih mencintai beliau daripada aku”.
“Papa,, apakah engkau rindu juga padaku???” tanyaku pada langit malam yg kelabu
Kadang rasa iri bergelayut dalam hati ketika melihat anak-anak yang merengek manja di pelukan ayahnya. Hanya seulas senyuman yang terpancar dari wajah melihat pemandangan indah itu. Aku juga ingin merasakan itu, sangat ingin merasakan.
Kasih sayang seorang Ibu pun jarang kurasakan. Adanya Broken Home yang terjadi membuat komunikasi antara aku dengan beliau sangat kurang. Kakak pun telah dipanggi Allah untuk menemani ayahku di atas sana. Tidak ada lagi yang bisa ku jadikan tempat rengekan, tidak ada lagi manusia yg bisa ku jadikan tempat bermanja. Aku sendiri...
***
“Nayla,, hari ini kita halaqoh di pelataran masjid kampus jam 16.00” Afrah mengingatkan
“Insya Allah. Oh iya, sudah hafal surat Al-Baqarah 214 belum??” tanyaku
“astaghfirullah!  Ana lupa,, ayat itu membahas tentang apa nay?”
“Surat Al-Baqarah 214 membahas tentang Ujian yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang mengaku beriman. Sama ana ada tafsirnya,, kalau mau antum bisa pinjam sekaligus di hafal, karena itu akan menjadi bahan review dalam halaqoh nanti” kataku sambil menyerahkan secarik kertas.
“Syukron” jawab afrah dengan senyum
Percakapan singkat yang bisa menggambarkan sosokku dalam cerita ini seperti apa.
Ya,, aku adalah seorang pengemban dakwah. Pengemban dakwah ideologis, pengemban dakwah yang memperjuangkan tegaknya Hukum Allah di muka bumi ini, pengemban dakwah yang akan membunuh sistem kufur yang sedang mencengkram dunia. Tidaklah perlu aku sebutkan nama harokah yang aku terjuni, cukup hanya itu.
Aku sangat bersyukur kepada Allah, karena Allah mengizinkanku untuk menggapai hidayah yang manis itu. Hidayah mengenal Islam, hidayah mengenal Iman,  yang ku rasakan itu adalah hadiah yang tiada taranya di dunia ini.
Dengan mengenal Islam lebih dalam sekarang aku sadar pada siapa seharusnya aku harus merengek, pada siapa aku harus menangis, pada siapa aku harus bermanja, pada siapa aku harus mengadu. Allah,, Engkau begitu sempurna di mataku, sangat Sempurna.
Karena itu, sangat jarang aku  mencurahkan masalah pada manusia. Aku terlalu tertutup, memendam rasa itu sendiri. Sehingga tidaklah mengherankan sikap itu membuat aku mendapat penilaian dari teman-teman, pendiam dan keras dalam pendirian.
***
“Dalam parlemen sekarang lagi berlangsung penggodokan RUU ORMAS, dimana dalam  waktu dekat akan diresmikan dan disahkan oleh pemerintah. RUU ORMAS memicu penolakan dari berbagai ORMAS Islam. ORMAS Islam menolak RUU ORMAS dikarenakan banyak pasal-pasal yang tidak sesuai dan hanya memihak “orang-orang” tertentu”.
Begitulah berita yang aku dengar di siaran televisi. Sekarang lagi gempar-gemparnya tentang RUU ORMAS. Kesal, marah, jengkel menyatu dan bercampur aduk di hati dan fikiranku. Sangat jelas ketidakmasuk akalan pemerintah tentang RUU ORMAS. RUU ORMAS yang menjadikan pancasila sebagai asas utama dan yang paling utama oleh sebuah ORMAS. Jikalau tidak maka ORMAS itu akan dibubarkan. Sangat tidak masuk akal! Seharusnya Islam yang menjadi asas bukan pancasila. Dengan demikian, jikalau ada ORMAS yang menjadikan asasnya adalah Islam maka secara otomatis akan dibubarkan.  Otaknya pemerintah itu sebenarnya ada dimana???
Nada sms berbunyi mengagetkanku dari hayalan tentang RUU ORMAS.
“Assalamu’alaikum dek, hanya mengingatkan kembali jangan lupa persiapkan diri karena jam 11.00 antum jadi pemateri diskusi tematik”
Ternyata sms dari kak syifa. Beginilah rutinitasku, tiada hari tanpa dakwah!
Dengan cepat ku persiapkan semuanya yang aku butuhkan selama diskusi nanti. Hari ini aku menjadi pemateri sebuah diskusi yang rutin harokah kami lakukan setiap minggu.  Aku akan membawakan materi tentang DEMOKRASI SISTEM KUFUR. Materi-materi telah aku pelajari semenjak malam kemarin. Namanya berdakwah haruslah ada yang dapat menyokong pemikiran, meskipun hanya sekedar membaca materi atau membrowsing di internet.
Diskusi biasanya dihadiri oleh mahasiswi dari berbagai kampus. Sekedar informasi kegiatan yang aku lakukan dengan teman-teman seperjuanganku ini hanya dikhususkan untuk akhwat. Ada pun yang ikhwan itu ada jalurnya tersendiri. Biasanya gabung tapi itu jarang, itupun jikalau kegiatan bersama. Kita semua pahami bahwa dalam Islam ada aturan tentang pergaulan antara perempuan dan laki-laki.
Diskusi akan segera dimulai. Banyak mahasiswi yang datang dari berbagai kampus, aku lihat ada juga yang berpakaian putih abu-abu yang menandakan ada juga Siswa SMA yg datang. Dengan mantap aku paparkan segala sesuatu yang aku ketahui tentang demokrasi. Dimulai dari fakta yg dihasilkan oleh demokrasi tersebut, sejarah yang telah berlalu, analisis fakta sekaligus solusi. Solusi yang aku tawarkan bukanlah solusi yang main-main. Solusi yang aku tawarkan adalah solusi yg Perfect, yang bisa mencakup semua, yg bisa menyelesaikan masalah umat. ISLAM, itulah solusi mutlak yang aku tawarkan kepada para peserta.
Banyak tanggapan yang aku dapatkan, ada yang pro dan ada yg kontra.
“Afwan ustadzah, saya mau tanya. Tadi ustadzah menjelaskan bahwa demokrasi sistem kufur, demokrasi adalah sistem sampah yang harus dibuang. Akan tetapi, kita lihat kondisi sekarang banyak partai politik islam yang menggunakan demokrasi. Itu bagaimana? Apakah pandangan ustadzah dengan mereka berbeda? Kalau difikir sama-sama beragama Islam.” Tanya salah seorang peserta diskusi
“Pertanyaan yg bagus, tapi sebelum menjawab ada baiknya saya katakan dulu suatu hal. Jangan panggil saya ustadzah, panggil saya kakak saja. Oke, beranjak ke pertanyaan. Partai politik islam yang menggunakan demokrasi. Memang di lapangan banyak partai politik islam yang bergelut dengan demokrasi, dengan kata lain bermain dalam parlemen. Disini kita bisa melihat bahwa memang kita sama-sama beragama Islam, tapi cara pandangnya kita berbeda.
Saya paparkan kembali Firman Allah :
Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan(hukum) Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (QS al-Maidah [5]: 44).
Kita bisa tinjau dari Firman Allah ini. Mari kita analisis, disini dikatakan bahwa orang kafir itu adalah orang yang tidak menggunakan hukum Allah. Demokrasi sekarang memakai hukumnya siapa? Apakah hukumnya Allah? Sekali-kali tidak, hukumnya Allah dibuang adek-adek sekalian. Kafir disini merupakan perkataan tegas yang menunjukkan kewajiban umat Islam menggunakan hukum Allah bukan hukum buatan manusia. Bagaimana dengan partai politik islam di dalam parlemen? Bisa saya katakan mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tunduk di bawah patung burung garuda. Mau menerapkan hukum Allah dengan cara masuk parlemen itu susah, bahkan mustahil. Ditinjau dari fakta di lapangan demokrasi tidak mau menerima Islam. Partai-partai politik yang melabeli mereka dengan islam bukan memperbaiki umat tapi malah tambah merusak umat. Example, mereka melegalkan UU Terorisme yang notabene menginjak-injak harga diri umat islam. UU Terorisme menghalalkan nyawa umat islam atas nama densus 88. Inilah wajah demokrasi sebenarnya! Menurut meeka demokrasi itu layak bagi umat, iya layak memang. Layak membunuh! Padahal bisa di lihat tanpa memakai kacamata demokrasi itu rusak, layak di musnahkan.
“Mmmmmm, ada benarnya juga apa yang kakak jelaskan. Syukron kak, saya sekarang bisa paham walaupun sedikit” kata penanya
“Kalau adek mau, kita bisa lanjut sharing tentang demokrasi di luar forum ini, bagaimana?” tanyaku
“Wahh, saya mau kak. Insya Allah” Jawabnya
“Insya Allah” Jawabku kembali
Dalam hati aku berkata “Alhamdulillah dapat calon kontakan nih” (hehehehe).
Tiba-tiba ada suara yg muncul dari arah belakang.
“Afwan, saya mau menyanggah pernyataan kakak tadi. Saya mengambil kesimpulan bahwa kakak mengatakan partai politik islam yang bergelut dalam parlemen itu melakukan kesalahan. Kesalahan disini karena bermain dengan demokrasi. Disini saya tidak setuju, karena pada faktanya mereka itu lebih baik daripada hanya tau bicara saja. Berkoar-koar kesana kemari tapi no action saya rasa lebih buruk. Saya berikan perumpamaan, negara ini anggaplah sebuah rumah yang kotor, kalau ingin membersihkan ya harus masuk ke dalam, berani berkotor ria, yang penting bersih. Daripada Cuma bisa teriak-teriak di luar.” Tanya seorang peserta dengan nada agak marah
“Ehem, pertanyaan yg sangat bagus bahkan sampai pakai logika perumpamaan” jawabku dengan senyuman
“Logika perumpamaan akan seimbang jika disandingkan dengan logika perumpamaan juga. Bukan begitu?? Tapi saya tidak butuh jawaban, karena pasti apa yang saya katakan benar adanya. Logika perumpamaan “negara ini anggaplah sebuah rumah yang kotor, kalau ingin membersihkan ya harus masuk ke dalam, berani berkotor ria, yang penting bersih.”, saya pun memakai logika perumpamaan yang sama. Anggaplah negara ini sebuah rumah yang dihuni oleh para perempuan-perempuan pelacur, nah jikalau memakai logika perumpamaan seperti yg antum fikirkan, secara otomatis antum harus jadi pelacur dulu baru bisa membersihkan rumah yang dihuni oleh para pelacur tersebut. Berani berkotor ria, yang penting bersih. Apakah begitu? Sekali-kali tidak. Jangan pernah mencampur adukkan antara haq dan batil. Kita harus ketahui bahwa standar perbuatan manusia itu hanyalah dua, halal & haram. Kalau halal ya halal, nggak boleh diharamkan, kalau haram ya haram, nggak boleh dihalalkan. Jangan pernah jadi abu-abu dalam masalah keimanan. Mendukung demokrasi sama dengan menggadaikan aqidah kita hanya demi kekuasaan. Mau membersihkan negara atau dunia dari demokrasi jalannya harus sesuai, nggak boleh keluar dari jalur Islam. Bisa jadi membuat kesalahan yang fatal. Kalaupun partai politik yang melabeli partai dengan islam seharusnya berpihak pada umat. Sekarang apa yang kita rasakan? Sejahtera? Kita malah tambah susah, BBM naik, Kenaikan Listrik, masalah korupsi yg nggak habis-habis. Kemana partai politik yg berlabel islam itu?? Mungkin bisa dijawab sendiri” jawabku santai
Ku lihat peserta yang bertanya diam seribu bahasa. Ku lemparkan seulas senyum untuknya.
“Ya, afwan sebelumnya adek-adek. Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB, itu tandanya waktu diskusi kita sudah hampir habis. Terima kasih untuk adek-adek semua serta teman-teman yang ikut berpartisipasi datang dan bertanya. Kami berharap diskusi seperti ini akan selalu menjadikan ajang silaturahmi dan bertukar pikiran akan Islam. Kami memohon maaf apabila ada kata-kata yang salah. Kesalahan dari kami pribadi dan kebenaran datangnya dari Allah Subhanallahu wa ta’ala. Kami tutup dengan mengucapkan istighfar, do’a kafaratul majlis dan hamdallah (Alhamdulillah), wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu” kata moderator menutup diskusi.
***
Hari yang cukup melelahkan bagiku. Ku langkahkan kaki ke arah kost yang tidak jauh dari kampus, ku rasakan badanku tidak enak. Setelah sampai aku rebahkan tubuh, capek yang sangat terasa. Mungkin tidur sejenak bisa merubah kondisi menjadi lebih baik.
“Papa telepon,,, papa hua telepon papa tau, kama telepon fut cooome,, papaaaa telepoooon cak cak dulumn” suara bayi yang merupakan nada dering HP yang buatku terbangun.
“Afrah”
Nama yang tertera di layar HP, belum sempat di angkat sudah keburu mati.
Tidak lama nada Sms berbunyi
“Nay,, dimana?? Udah jam 15.30 nih, cepetan datang”
Baca sms itu aku langsung bangun dan menyambar handuk. Aku lupa sore ini halaqoh, segera ku bersiap-siap dan berangkat menuju kampus.
Perhalaqohan ku rasakan seperti “carsh” yang bisa mengisi semangatku kembali. Bercanda dan mendiskusikan permasalahan umat, menambah tsaqofah dan membuat aku semakin paham bahwa Islam adalah agama yang paling Sempurna. PERFECT!
“Nay,, kamu nggak apa-apa? Kok pucat?” tanya musyrifah
“Pucat kak? Masa sih? Ah nggak apa-apa, Cuma sakit sedikit kok” sanggahku
“Jangan bohong dek, wajahmu itu pucat sekali. Kalau sakit istirahat dulu, umat butuh kita loh. Kalau nay sakit itu berarti umat kehilangan 1 pejuang. Mau kayak begitu?” Tanya musyrifah
“Nggak mau kak” jawabku sambil cengengesan
“Makanya istirahat yang cukup” tegasnya
***
Huuuufffttt...
Tidak terasa 2 minggu berlalu, sakitku belum ada tanda-tanda kesembuhan.  Demam, sakit kepala, mual, muntah dan mimisan yang ku alami belum ada tanda-tanda ke arah yang lebih baik. Kurasakan semakin parah.
Kondisiku sampai juga ke telinga musyrifah lewat seorang teman, beliau mengajakku untuk mengikuti terapi yang kebetulan musyrifah dari musyrifahku yang mengelola. Akupun mengiyakan karena pada dasarnya aku tidak tertarik ke dokter.
“Dek, sudah lama sakit seperti ini?” tanya ustadzah
“sekitaran 2 minggu ustadzah,, ada apa?” tanyaku
“Ndak apa-apa” jawab ustadzah dengan senyum simpul
Senyum yang aneh, begitulah yang terbersit dalam kepalaku
“Hasilnya gimana mbak?” tanyaku | kebetulan orang jawa makanya di panggil “mbak”.
“Antum itu maagnya bengkak, liver juga, terus kelenjar getah beningnya juga bengkak” jelas ustadzah
“Jaga kondisi loh dek,, jangan terlalu capek” sambung musyrifahku
*Kelenjar getah bening  bengkak*
Kalimat itu menggangguku. Ku ingat bahwa pada saat kakakku di vonis leukemia salah satu ciri yang dokter sebutkan adalah kelenjar getah bening membengkak.
Ah tidak,, segera ku buang jauh fikiran itu. Ustadzah memberikan obat herbal 2 botol untuk ku minum.
“Habiskan obat itu, jangan malas!” kata ustadzah yang ku sambut dengan tawa
Apa yang ustadzah katakan sangat menggangguku.
“Kelenjar Getah Bening bengkak”
Apakah ada hubungannya dengan leukemia?
Entahlah...
***
Hujan..
Tempat ini sangat indah jika hujan turun, rasanya ingin bermain-main ria menikmati rintik-rintik hujan. Tapi sayang, aku hanya bisa menatap itu dari balik kaca kamarku.
Ya,, sekarang aku hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Hasil test darah yang mengatakan aku positif leukemia memaksaku untuk menetap di kamar.
Aku rindu dengan teman-teman, aku rindu dakwah, aku rindu anak-anak kajianku. Aku rindu semua itu.
“Ya Allah,, izinkan hamba untuk merasakan kembali semua itu” pintaku dengan tangis
***
Tapi di balik semua itu aku bersyukur, karena aku bisa mengenal salah seorang kakak. Meskipun hanya lewat dunia maya, tapi kehadirannya sangat kurasakan. Perhatiannya, kasih sayangnya, galaknya, aku suka itu.
Kadang aku rewel, kadang aku ngambek, kadang pun aku tertawa bersamanya. Meskipun hanya dunia maya tapi aku bersyukur. Aku merasa mendapatkan kasih sayang dari seorang kakak.
Kita pernah chatting lewat YM
*Dek,, istirahat dulu. Online terus, kapan sembuhnya kalau begini?
#nggak apa-apa,, nay nggak punya temen :’( | Bete sendiri
*Udah,, kakak nggak mau dengar alasan lagi, matikan laptop trus istirahat
#nggak mau :P
*Adeeeeeekkk, bandel banget sih!!! Kakak itu sedih kalau dengar adek sakit-sakit terus begini L
#Nay nggak apa-apa, nay nggak sakit! X-(
*Gini aja,, kalau nay sembuh, kakak akan kasih hadiah. Gimana??? Mau??
Dengar kata hadiah, hatiku langsung gembira bukan main.
#mauuuuuuuuuuuuuuuuu,,,janji ya??
*Janji deh, yang penting sembuh dulu
#nay mau boneka kakak
*Loh,, kok malah nay yang nentuin,, kan yg ngasih kakak,, piye to?
#pokoknya nay mau boneka!! :’(
*Iya... iya... aduuuhhh... susah juga punya adek manja seperti ini.
#Biarin :P
Itulah percakapan singkat. Lucu, senang dan gembira aku rasakan, hitung-hitung sebagai pelipur hati.
Kesembuhan dikarenakan hadiah boneka, mungkin itu yang membuatku semangat. Kesehatanku berangsur membaik. Dan bisa lagi berkumpul dan berdakwah kembali. Alhamdulillah..
Boneka pun kudapatkan sudah,, Boneka bintang warna biru. Kemanapun aku membawa boneka itu, ke kost, ke mabit, kemana saja.
*Nay,,, ingin menjadi seperti bintang sirius yang tetap bercahaya terang seburuk apapun cuaca di atas sana*
*Kakak akan jadi langitnya dek,, langit hanya tau bahwa dia hanya mempunyai 1 bintang sirius*
***
Gelap ku rasakan, sepi dan sunyi. Aku dimana???
Sesaat cahaya terang benderang menyilaukan mata muncul, jelas dan semakin jelas.
“Cahaya lampu”
“Sudah bangun nak??” sapa lembut bunda
“Bunda..” lirihku
“Nay,, ada dimana??” tanyaku bingung
“Nay ada di Rumah Sakit sayang,, 3 hari lalu nay mimisan sama muntah-muntah terus pingsan di kampus” terang bunda
“Nay mau pulang” lirihku
“kenapa?? Kan masih sakit” Kata bunda sambil geleng kepala
“Pokoknya nay mau pulang,, nay nggak apa-apa. Nay masih bisa berdiri,, nay masih bisa senyum itu berarti nay nggak apa-apa. Nay nggak perlu pake infus segala,, nggak perlu pake selang oksigen” Ucapku sambil menangis
Bunda langsung memeluk tubuhku yang semakin hari semakin kurus. Mengusap rambutku yang semakin hari semakin tipis.
“Belum bisa pulang sayang,, sembuh dulu” Ucap bundaku lembut
Aku terisak-isak dalam pelukan bunda, aku baik-baik saja. Kenapa harus di pasang alat-alat yang mengerikan ini. Begitu banyak obat yang aku konsumsi, tapi tidak menunjukkan perubahan sedikitpun.
***
Kesembuhan pun datang menghampiriku..
“Assalamu’alaikum,,, teman-teman seperjuangan semua,, nay pengen liat laut nih,, sunset sekalian bintang,, ada yang mau temanin nayla nggak???”
“klik”
Ku kirim sms singkat itu ke semua teman-teman (syabah), berharap ada yang menanggapi.
Nada dering berulang kali berbunyi, pertanda banyak yang menanggapi. Ternyata mereka mau semua. Akhirnya di rencanakanlah sore ini akan pergi ke laut melihat sunset sekaligus bintang.
Teman-teman begitu antusias menemaniku, dengan bersepeda ria kita menuju ke tempat yang direncanakan. Sangat menyenangkan, tertawa bersama, bercanda, bernyanyi-nyanyi ria. Sungguh tidak akan pernah ku lupakan hari ini.
Suasana laut yang membuat hatiku tenang, teduh dan damai. Di temani selaksa tawa bersama teman-teman seperjuangan. Canda tawa terpatri dalam hati, senyum manis menghiasi wajah cantik teman-temanku. Aku melihat keceriaan yang begitu mempesona dari pertemanan ini.
Aku melihat hamparan laut dan hanya 1 kata yang keluar dari bibir pucatku “Subhanallah”. Betapa indah laut yang berada di depanku. Ombak yang menghantam batu karang dengan kerasnya, ombak yang menari-nari di bawah kakiku.
Ada perasaan yang terbesit dalam hati, bahwa ini adalah waktu terakhirku melihat pemandangan seperti ini. Dari tempat duduk aku mengabadikan semua canda tawa teman-temanku yang bergembira ria.
“Aku bangga mempunyai teman-teman seperti kalian,, kalian masih bisa tersenyum walaupun di pundak kalian ada beban yang berat. Aku bangga melihat ketegaran kalian, senyum dan canda tawa kalian saat ini menandakan kalian itu adalah umat pilihan, tetap istiqomah kawan, aku sayang kalian semua” batinku dalam hati
Akupun segera berlari kecil menghampiri mereka yang sedang main-main air. Basah-bahasan dengan cara saling memercikkan air ke satu sama lain.
“Nay,, ikut donk” kataku sambil ikut menceburkan diri bersama mereka
Sangat indah, aku tidak ingin ini berakhir. Setidaknya ada yang bisa aku ingat bahwa aku pernah merasakan indahnya laut dan gembiranya canda tawa hari ini.
“Eh,, foto-foto yuk” kataku
“Ayooooooo” jawaban serentak yang berhasil mengundang tawaku
Foto demi foto tersimpan sudah dalam memori HP, otak dan Hati ini. Gaya gokil, serius, militan dan masih banyak lagi. Aku saat ini sering tertawa, sering senyum melihat kekocakan teman-teman seperjuanganku itu.
Sebuah bayangan berkelabat di hadapanku,,
“Papa..” panggilku
Sontak teman-teman yang sedang asyik foto-foto mengarahkan pandangan kepadaku.
“Nay,, kamu nggak apa-apa??” tanya mereka
“Aku lihat papa,, aku lihat papa,, aku lihat papa tadi” airmataku langsung jatuh
“Nggak ada siapa-siapa disini selain kita nay,, kamu salah liat. Nah mana kacamatanya?? Kok nggak di pake??” Tanya sofiah
“Nah itu dia,, kamu nggak pake kacamata jadi ngeliat hembusan angin dikira bayangan” tambah afrah
“Udah,, nggak usah nangis,, akhwat militan kok nangis liat bayangan” celetuk nisa yang mengundang tawa semua teman-teman.
Mungkin benar, aku salah lihat! It’s oke!
“Astaghfirullah,, nay darah nay!!” kata nisa
Spontan aku mengambil tissu di tas dan langsung mendongakkan kepalaku ke atas. Teman-teman semua berhenti dan membantuku membersihkan darah yang merembes dari hidungku.
“Nay,, kamu sebenarnya sakit apa? Kok kayak gini?” tanya afrah
“Nggak,, nggak sakit apa-apa, mungkin cuma kecape’an” sanggahku
“udah,, kita pulang,, aku takut nanti kamu tambah parah” kata sofiah
“Nay, kamu aku yang bonceng aja, biar sepedamu di bawa sama nisa” tambah sofiah
Aku hanya bisa anggukkan kepala saja karena memang kepalaku sudah mau pecah rasanya.
Selamat tinggal laut,, selamat tinggal bintang,, selamat tinggal langit,, selamat tinggal semua... maafkan aku merusak keindahan hari ini.
***
Tubuhku sudah lemas, tidak berdaya terkapar di tempat tidur. Entah apa yang kurasakan, tubuh terasa sangat ringan.
Aku rindu kakak.
Kakak,, apa kabarmu? Baik-baikkah kau disana?? Maafkan adikmu ini
Terbayang kembali semua percakapan dan rasa gembira yang Allah berikan melalui perantara beliau. Kapan aku bisa merasakan itu kembali? Masih adakah kesempatan itu? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawab itu semua.
***
Aku merasakan kantuk yang sangat memberatkan mata, mungkin pengaruh obat yang ku minum tadi. Aku terlelap dalam tidur nyenyakku. Berharap mimpi indah.
Cahaya putih muncul,, menyapaku dalam mimpi. Suara yang begitu lembut, suara yang tidak asing lagi di telingaku.
“Nayla sayang,,” sapa suara itu
“Papa,, papa dimana?? Ini nayla,, papa ada dimana?? Papaa” teriakku kegirangan
“Papa disini sayang,,” suara  yang di ikuti sosok putih, tampan, dan bercahaya
Ku berlari kencang dan memeluk sosok itu. Sosok yang selama ini ku rindukan. Airmata berhamburan membanjiri pipiku.
“Nayla rindu papa,, rinduu” kataku terisak-isak
“Iya sayang,, papa tau. Sebentar lagi kita akan pulang sayang, nayla sama papa akan pulang bersama-sama, nanti papa akan jemput nayla” ucap papa sambil mengelus kepalaku.
“nayla mau ikut papa sekarang saja, nayla mau sama-sama papa” kataku merengek
“belum bisa sayang,, nanti yah,, papa tunggu nayla disini. Papa sayang nayla, terima kasih sudah membuat papa bahagia.” Ujar papa
“Nayla buat papa bahagia??” tanyaku
“iya sayang, papa bahagia dengan doa yang nayla kirim, papa bahagia dengan kerudung dan jilbab yang nayla pakai, papa bahagia dengan apa yang nayla lakukan” jawab papa
“nayla cantik nggak pa??” sambil memperlihatkan kerudung dan jilbab putih bermanik-manik yang aku pakai. Aku berputar-putar memperlihatkan kecantikan jilbab dan kerudungku itu.
“Cantik sayang,, sangat cantik,, kamu seperti wanita yang mau menikah,, papa sayang nayla” ujar papa
Tiba-tiba semua gelap,hitam dan hilang.
“Papaaa,,, papaaaa,,” teriakku
Hanya mimpi??? Airmataku langsung berhamburan. Aku rindu papa, sangat rindu.
Bunda berlari menghampiriku dan memelukku dengan kuat. Bunda ketakutan mendengarkan aku teriak-teriak.
“nayla kangen papa bunda,, nayla tadi ketemu papa. Papa bilang nayla mau di ajak pulang” kataku sambil terisak-isak.
Bunda tidak berkata apa-apa, bunda hanya bisa diam dan memelukku lebih erat.
***
Aku dilarikan kembali ke Rumah sakit setelah pingsan beberapa kali. Kondisi ku rasakan sangat down, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah. Alat-alat mengerikan terpasang kembali ke tubuhku yang kecil dan kurus ini. Suasana ICU yang mendukung, bunyi-bunyi alat-alat mengerikan itu sangat terdengar jelas di telingaku. Aku rasakan tubuhku melayang,, ku lihat sosok cahaya datang menyapaku dengan lembut.
Papa pun mendekatiku.
“waktunya pulang sayang” bisik papa di telingaku
Aku tahu,, sekaranglah waktunya aku pulang.
Aku melihat orang-orang yang aku sayang untuk terakhir kalinya.
Semua terasa lembut, halus, melayang.
Cahaya lampion ku lihat semakin redup, seredup hatiku.
“Bunda”
Maafkan nayla selama ini hanya bisa buat bunda susah, maafkan nayla juga yang belum bisa membalas semua ini. Maafkan nayla yang belum bisa berbakti sama bunda,, maafkan nayla bunda.
“Teman-teman”
Aku bahagia memiliki kalian semua, aku bahagia bisa menjadi pejuang bersama kalian, aku bahagia bisa tertawa dan bercanda dengan kalian, maaf tidak bisa menemani kalian untuk berjuang lagi. Tetap istiqomah ya,, maaf nayla tidak bisa bermain dengan kalian lagi di laut nanti.
“Kakak”
Kakak,, maafkan nayla sudah tidak bisa memberikan kabar apapun lagi. Maafkan nayla yang tidak sempat pamitan lagi. Maafkan nayla yang tidak bisa menepati janji untuk sembuh. Boneka bintang biru sekarang ada dalam pelukan nayla. Nayla sangat bahagia,, sangaaat bahagia,, nayla hanya akan ingat “Langit nayla hanya satu”, nayla berharap kakak tidak akan pernah lupa bahwa kakak pernah punya satu bintang sirius.
Sudah saatnya nayla pulang,,
Nayla sayang kalian semua,,