Rss

Senin, 28 Januari 2013

“PEMUDA & PERUBAHAN”



Banyak slogan yang menggambarkan bahwa pemuda merupakan aset bangsa untuk masa nanti. Diantaranya  seperti “Pemuda adalah Tonggak untuk menuju Perubahan”. Mengapa harus pemuda? Karena memang jelas bahwa dalam diri pemudalah adanya sifat-sifat heroik yang bisa menggempur dunia dengan ide dan partisipasinya.
Dapat kita lihat begitu banyak para Sahabat Rasulullah yang mengukir sejarah pada dunia dengan usia mudanya. Contoh Abdullah bin Abbas, Ali bin abi thalib, Zaid bin haritsah, Mush’ab bin Umair , Saad bin Abi Waqqash dan yang tidak asing lagi bagi kita yaitu Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel. Sang Penakluk yang namanya menjadi batu loncatan semangat para pemuda untuk menaklukkan kota Roma.
Hari ini marilah kita lihat fakta yang diberikan Negara Indonesia yang kita cintai, pemuda-pemuda yang seharusnya menjadi aset bangsa malah dirusak dengan berbagai macam cara. Adanya penyebaran Narkoba yang tidak selesai-selesai dibasmi, banyaknya pangkalan atau cafe-cafe yang menyajikan minuman keras, banyak tawuran sana sini. Bahkan lebih parah banyaknya tempat-tempat prostitusi yang dijadikan “base camp” para pemuda. Naudzubillah!!
Inikah pemuda-pemuda yang dikatakan tonggak perubahan??? Sekali-kali bukan!!
Pemuda yang bisa melanjutkan estafet perjuangan dari Rasulullah dan para sabahatnya hanyalah pemuda yang beraqidah islam dan menjadikan dakwah sebagai poros utama kehidupan, yang mempunyai semangat juang yang tinggi, yang bisa mengemban dakwah dengan pemahaman Ideologi yang shohih yaitu Ideologi Islam. Pemuda seperti inilah yang bisa mendobrak dunia dan menjalankan proyek terbesar yang Allah SWT percayakan. Proyek besar??? Ya, Proyek besar yang dimana kita akan menghancurkan bangunan-bangunan jahiliyah dan menggantikannya dengan bangunan Islam yang berdiri megah, tangguh & kokoh.
Pemuda seperti inilah yang bisa menegakkan kembali panji-panji Rasulullah kita tercinta, yang bisa menyebarkan Islam ke berbagai penjuru dunia dengan keyakinan yang kuat, yang bisa menjalankan Agenda besar umat islam yaitu Perubahan Dunia secara Global. Perubahan yang dengan itu kemuliaan Islam akan kembali lagi dalam tangan umat muslim. Perubahan dalam naungan Khilafah Minjah An Nubuwwah dan di bawah pimpinan seorang khalifah.
Hendaklah para pemuda mengikuti semangat para shahabat Rasulullah dalam menegakkan Islam kembali dan menguasai dunia. Hendaklah mereka membangunkan para pemuda yang lain untuk sama-sama berjuang dan “mengaumkan” dunia dengan Syariah dan Khilafah seperti yang dilakukan oleh Muhammad Al Fatih!!
Siapakah Muhammad Al Fatih kedua untuk menaklukkan kota ROMA??? Mari berlomba kawan, Kota Roma menanti Anda!!

                                                                                    Bintang Kecil Perindu Khilafah
                                                                                                Muslimah Revolt

Minggu, 27 Januari 2013

BAGAIMANA MERUJUK PADA ULAMA SALAF?


Kita acapkali mendengar bahwa sudah selayaknya kaum Muslim merujuk kepada para ulama salaf. Lalu siapakah sebenarnya ulama salaf itu?

Jawab:

Salaf secara harfiah berarti madhâ (berlalu), juga berarti generasi pendahulu seseorang.[1] Menurut Ibn Manzhur, salaf mempunyai dua konotasi: Pertama, setiap amal salih yang dipersembahkan oleh seseorang sehingga amal tersebut menjadi peninggalannya. Kedua, nenek moyang yang telah mendahului Anda, atau kerabat Anda, yang usia dan kemuliaannya berada di atas Anda. Karena itu, generasi pertama Islam, yaitu para sahabat dan tâbi‘în, disebut Salaf Shâlih.[2] 

Prof. Dr. Muhammmad Rawwas Qal'ah Ji, dalam Mu'jam Lughat al-Fuqahâ', menyatakan bahwa istilah salaf bukan hanya untuk para sahabat dan tâbi‘în, melainkan termasuk para tâbi‘ at-tâbi‘în serta imam mujtahid terdahulu yang (ijtihadnya) bisa diterima.[3]

Dengan konotasi seperti ini, ulama salaf itu meliputi generasi sahabat, generasi tâbi‘în, generasi tâbi‘ at-tâbi‘în, dan para imam mujtahid. Selain generasi ini, dalam khazanah keilmuan Islam, disebut dengan istilah khalaf. Artinya, khalaf juga merupakan kebalikan salaf. Khalaf sendiri secara harfiah berarti pengganti, di belakang, atau yang ditinggalkan. Dari sini, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal'ah Ji menyatakan bahwa khalaf berarti generasi ulama pasca tâbi‘ at-tâbi‘în.[4] Dengan konotasi seperti ini, maka para ulama klasik seperti Ibn Hazm (w. 1064 M), al-Ghazali (w. 1111 M), as-Sarahsi (w. 1112 M), ar-Razi (w. 1228 M), Ibn Qudamah (w. 1242 M), an-Nawawi (w. 1277 M), Ibn Taimiyah (w. 1328 M), Ibn Hajar al-Asqalani (w. 1474 M) dan sebagainya termasuk dalam kategori ulama khalaf. 

Hanya saja, persoalannya bukan terletak pada status salaf atau khalaf sehingga salaf pasti lebih baik daripada khalaf. Sebab, generasi khalaf pun berhak mendapatkan status kemuliaan sebagaimana yang diperoleh oleh generasi salaf, seperti yang telah dinyatakan dalam Hadis Nabi saw.:

«أَتَدْرُوْنَ أَيَّ أَهْل الإِيْمَانِ أَفْضَلُ إِيْمَانًا؟... قاَلَ: أَقْوَامٌ يَأْتُوْنَ مِنْ بَعْدِيْ فِي أَصْلاَبِ الرِّجَالِ فَيُؤْمِنُوْنَ بِيْ وَلمَ ْيَرَوْنِي، وَيَجِدُوْنَ الْوَرَقَ الْمُعَلَّقَ فَيَعْمَلُوْنَ بِمَا فِيْهِ» 

"Tahukan kalian, siapakah orang beriman yang paling baik keimanannya?"....Beliau menjawab, "Suatu kaum yang datang setelahku sebagai orang-orang yang kuat; mereka mengimaniku, sekalipun tidak pernah melihatku; mereka menemukan kertas yang tergantung, lalu melaksanakan isinya." (HR al-Hakim).

Hadis ini dengan jelas menyatakan status keimanan generasi pasca sahabat, termasuk di dalamnya generasi khalaf, yang dinobatkan sebagai generasi paling baik keimanannya, karena mereka melaksanakan isi kertas yang tergantung, yaitu al-Quran dan as-Sunnah, dalam kehidupan mereka. Mereka memang tidak pernah hidup pada zaman Nabi saw. dan tidak sempat bertemu beliau, tetapi mereka mengimaninya dan melaksanakan seluruh ajarannya. Artinya, masalahnya bukan terletak pada status salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan) mereka, tetapi pada keteguhan mereka dalam mengimplementasikan seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasul saw. 

MAKSUD MERUJUK PADA ULAMA SALAF 

Allah memang menciptakan manusia dengan potensi intelektual yang berbeda satu sama lain. Karena itu, Allah memerintahkan agar yang potensi intelektualnya kurang bertanya kepada orang yang mempunyai potensi intelektual lebih. Allah Swt. berfirman:

]فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ[

Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui. (QS an-Nahl [16]: 43).

Nabi saw. juga bersabda: 

«أَلمَ يَكُنْ شِفَاءُ الْعَيِّ السُّؤَاْلُ» 

Bukanlah obat bagi orang yang buta (tidak tahu) itu adalah bertanya? (HR al-Hakim).

Karena itu, taklid dalam keberislaman seseorang memang telah dimaklumi kebolehannya. Hanya saja, tetap harus dibedakan antara persoalan akidah dan hukum. Dalam akidah, taklid tidak diperbolehkan, sementara dalam persoalan hukum diperbolehkan. Sebab, terdapat banyak nash yang melarang taklid dalam berakidah, sementara dalam berhukum tidak; sekalipun tentu ini bukan merupakan perintah asal bagi setiap mukallaf. 

Meski demikian, tetap harus dicatat, bahwa kebolehan taklid kepada orang bukan berarti mengikuti orangnya, melainkan mengikuti pendapat dan pandangan yang menjadi ijtihadnya. Sebab, setiap manusia wajib mengikat seluruh perbuatannya dengan hukum Allah, baik dengan cara berijtihad sendiri ataupun bertaklid kepada mujtahid lain. Jika seorang Abu Hanifah, Malik, as-Syafi'i atau Ahmad, misalnya, bukan mujtahid, maka taklid kepada mereka tentu tidak diperbolehkan. 

Karena itu, status mengikuti ulama bisa diklasifikasikan menjadi dua: (1) taklid; jika ulama yang diikuti adalah seorang mujtahid; (2) ta'lîm wa ta'allum (belajar-mengajar); jika ulama yang diikuti bukanlah seorang mujtahid. Meski demikian, masing-masing ulama tersebut tetap harus memenuhi kualifikasi adil dan 'alîm (berilmu).[5]

Dari sini, bisa disimpulkan, bahwa maksud merujuk kepada ulama salaf tidak lain adalah mengikuti pendapat dan pandangan mereka, bukan mengikuti individu mereka; atau mengikuti hukum dan pandangan yang menjadi ijtihad mereka, bukan pandangan yang lahir dari hawa nafsu mereka. Karena itu, keilmuan mereka yang digunakan untuk berijtihad, yang ditopang dengan keadilan mereka—sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali[6]—menjadikan mereka sebagai rujukan dan panutan generasi setelah mereka. 

Mengikuti pendapat dan pandangan ulama salaf tidak serta-merta karena figur kesalafannya, yang oleh Imam Ali k.w. disebut rijâl, tetapi karena aspek kebenaran pendapat dan pandangan (al-haqq)-nya, dan baru bisa dinilai; apakah rijâl (figur salaf atau khalaf) tersebut benar atau salah. Untuk mengetahui aspek kebenaran pendapat dan pandangan (al-haqq)-nya itu tidak ada jalan lain melainkan dengan menganalisis kuat-lemahnya dalil yang menjadi sandarannya. Imam Ali pernah menyatakan:

«إِنَّ الْحَقَّ لاَ يُعْرَفُ بِالرِّجَالِ اَعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفِ أَهْلَهُ»

Sesungguhnya kebenaran itu tidak bisa diketahui melalui figur (orang)-nya. Ketahuilah kebenaran itu, baru kamu akan mengetahui orangnya. (Dikeluarkan oleh al-Manawi dalam Faydh al-Qadîr). 

Kenyataan inilah yang menjadi alasan para ulama ushul menolak menjadikan mazhab sahabat sebagai dalil syariat, tetapi hanya sebatas hukum yang dihasilkan oleh sahabat, sebagaimana lazimnya mujtahid yang lain. Karena itu, statusnya sama; sama-sama mempunyai potensi benar dan salah. Ini berbeda dengan apa yang disepakati oleh para sahabat, yang kemudian dikenal dengan Ijma Sahabat. Yang terakhir ini merupakan dalil syariat yang pasti benar.

Akan tetapi, ini juga tidak berarti bahwa mengikuti mereka tidak penting, karena yang penting hanya mengikuti dalil. Sikap demikian hanya akan memutus mata rantai keilmuan syariat yang dibutuhkan untuk memahami dalil-dalil syariat tersebut, sebagaimana yang lazim disuarakan oleh kalangan Muslim Liberal. Sebab, harus diakui bahwa untuk memahami dan menggali dalil agar bisa dikeluarkan menjadi produk hukum syariat hanya bisa dilakukan dengan metode berpikir 'aqliyyah (rasional), yang meniscayakan adanya informasi kesyariatan. Informasi kesyariatan itu sendiri meniscayakan peranan ulama salaf, yang telah berjasa mensistematisasikan khazanah keilmuan Islam yang luar biasa itu. Karena itu, apapun upaya yang dilakukan untuk memahami dan menggali dalil syariat, tanpa bantuan keilmuan mereka, hanyalah upaya yang sia-sia.

Wallâhu a‘lam![HAR]

--------------------------------------------------------------------------------
CATATAN KAKI

[1] Ar-Râzi, Mukhtâr as-Shihhâh, Maktabah Lubnân, Beirut, 1999, hal. 272; Ibn Mandhûr, Lisân al-'Arab, Dâr al-Fikr, Beirut, t.t., juz IX, hal. 158-159.

[2] Ibn Mandhûr, Ibid, juz IX, hal. 158-159.

[3] Prof. Dr. Muhammad Rawwâs Qal'ah Ji, Mu'jam Lughat al-Fuqahâ', Dâr an-Nafâ'is, Beirut, cet. I, 1996, hal. 222.

[4] Prof. Dr. Muhammad Rawwâs Qal'ah Ji, Mu'jam Lughat al-Fuqahâ', Dâr an-Nafâ'is, Beirut, cet. I, 1996, hal. 222.

[5] Al-Ghazâli, al-Mustasfa fi 'Ilm al-Ushûl, Dâr al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut, 2000, hal. 373.

[6] Ibid, hal. 373

Sabtu, 26 Januari 2013

Sekilas tentang Thibbun Nabawi

Thibbun Nabawi? Nama apa itu? Mungkin orang-orang awam belum mengerti apa itu thibbun nabawi. Tetapi dalam dunia kesehatan Thibbun Nabawi sudah sering terdengar. Disini saya akan mengupas sedikit tentang apa sih Thibbun Nabawi itu? Penting ga sih dalam kehidupan kita?
Thibun nabawi adalah tata cara pengobatan Rosululloh SAW. Pada masa sekarang ini telah banyak orang yang melupakan atau mungkin belum mengenal thibbun nabawi, hal ini disebabkan karena semakin jauhnya umat islam sendiri dari agamanya ditambah lagi dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin modernnya teknologi pada dunia medis, sehingga banyak umat islam menganggap bahwa tata cara pengobatan warisan Rosululloh SAW sudah ketinggalan zaman dan tidak berlaku lagi untuk masyarakat modern, padahal jika kita sebagai umat islam mau mempelajari dan memahami thibbun nabawi niscaya akan banyak hikmah dan manfaat yang akan kita dapatkan khususnya dalam dunia pengobatan, selain itu tentunya kita juga akan mendapatkan bonus pahala sunah.
  • Konsep dasar Thibbun Nabawi:
  • Mencegah timbulnya penyakit
  • Mengkonsumsi makanan berkualitas & bergizi dengan Balance Nutrition=
  • Tidak mengkonsumsi makan beracun & racun
  • Melakukan pengobatan & pembuangan racun dalam tubuh
Konsumsilah makan yang berkualitas, seperti :

  1. Qs. Al Anbiya : 30 —— dari air kita jadikan sesuatu yang hidup
  2. Qs. Al Baqarah : 233 —— memberi ASI hingga umur 2 tahun
  3. Qs. An Nahl —— membiasakan minum madu secara rutin
  4. HR Abu Daud —— minum susu
  5. HR Bukhari Muslim & Tirmidzi —— konsumsi minyak habbatussauda dan zaitun membiasakan mengkonsumsi herbal
Adapun Terapi Thibbun Nabawi yang dilakukan Rasulullah :

  1. Al Hijamah / Bekam
  2. Ruqyah
  3. Memperlancar BAB dan BAK
  4. Terapi madu dan Al Qur’an
  5. Bedah / operasi
  6. Berobat ke dokter dengan pengobatan yang halalan toyyiban
Semua jenis obat dan tata cara pengobatan tersebut tentunya akan berhasil secara maksimal jika kita meyakininya secara total baik dengan hati maupun pikiran, seperti pernyataan Ibnul Qoyim Al –Juziyah bahwa keyakinan adalah doa. Dalam islam atau dalam thibbun nabawi kita memiliki keyakinan dan doa kepada Allah. Dengan obat dan tata cara pengobatan yang tepat, dosis yang sesuai sekaligus disertai keyakinan yang diiringi dengan doa, Insya Allah tidak ada penyakit yang tidak dapat diobati, kecuali penyakit yang membawa kematian

Langit & Bintang

Langit & Bintang itu tidak akan terpisah...
Dimana ada langit pasti ada bintang...
Malam yang menyatukan mereka dalam Pelukan-Nya..
Dan di hiasi oleh bulan...
Tetapi, kadang sering di tutupi oleh "Awan" & "mendung"...

Bintang...
Begitu banyak menghiasi langit...
Tapi.. Hanya 1 yang paling terang memancarkan cahaya-Nya...
Jangan tertipu akan kemilau bintang lain yang cahayanya masih "Berkedip"..

Aku...
Aku ingin seperti satu bintang itu..
Bintang yang tidak pernah lelah memancarkan cahaya-Nya...
Bintang yang tidak pernah letih menemani Langit dalam pelukan malam...
Bintang yang tidak pernah mengeluh memancarkan cahaya-Nya yang paling terang untuk menghiasi langit,,,

Tapi...
Tahukah Engkau kawan...
Bintang yang memancarkan cahaya yang paling terang itu konon "umurnya" pendek sehingga dalam waktu yang singkat akan padam dan akan meninggalkan langit,,,

Bintang...
Bintang tidak akan pernah lupa...
Langitnya hanya 1...

Langit...
Apakah Engkau akan melupakan Bintang itu???
Hanya "Langit" yang bisa menjawabnya..